Selimut bara hanguskan kulit,
Tergerai kabut dikepala pekat,
Denyut kepompong tak berdetak lagi,
Pecundang Susuri lereng hati,
Suara kupu-kupu menangis
Tembolok getah nan terkikis,
Cemara sesak tak teriak,
Mendengus lirih terdengar risih.
Asusila yang dilakoni
Dunia luas seakan sempit,
Serbuk putih adalah sarapan,
Secawan anggur kawan impian,
Wahai para budak chamar,,,
Engkau ibarat merpati
Pada buritan galau dalam sangkar,
Jangan silaukan pandanganmu,
Pada sang surya nan bersinar,
Hingga kau tertipu manisnya dunia,
Mengira nyata padahal semu,
Menisbatkan bara kepalsuan,
Kerana perpaduan hati dan jiwa terbit tenggelam,
Menyatu dalam wujud nan kelam,
Apakah DIA ciptakan dengan sia-sia?
Apakah karunia tiada guna?
Apakah neraka dongeng belaka?
Apakah surga hayalan saja?
Kebanyakan manusia tak mengerti,
Apakah makna dalam diri,
Menganggap hidup bagai mimpi
Tak hendak mengenal illahi rabbi.
Tergerai kabut dikepala pekat,
Denyut kepompong tak berdetak lagi,
Pecundang Susuri lereng hati,
Suara kupu-kupu menangis
Tembolok getah nan terkikis,
Cemara sesak tak teriak,
Mendengus lirih terdengar risih.
Asusila yang dilakoni
Dunia luas seakan sempit,
Serbuk putih adalah sarapan,
Secawan anggur kawan impian,
Wahai para budak chamar,,,
Engkau ibarat merpati
Pada buritan galau dalam sangkar,
Jangan silaukan pandanganmu,
Pada sang surya nan bersinar,
Hingga kau tertipu manisnya dunia,
Mengira nyata padahal semu,
Menisbatkan bara kepalsuan,
Kerana perpaduan hati dan jiwa terbit tenggelam,
Menyatu dalam wujud nan kelam,
Apakah DIA ciptakan dengan sia-sia?
Apakah karunia tiada guna?
Apakah neraka dongeng belaka?
Apakah surga hayalan saja?
Kebanyakan manusia tak mengerti,
Apakah makna dalam diri,
Menganggap hidup bagai mimpi
Tak hendak mengenal illahi rabbi.
0 komentar:
Posting Komentar